Kota Bengkulu (Humas) — Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di MTsN 1 Kota Bengkulu terus diarahkan pada pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan kompetensi peserta didik. Hal tersebut diterapkan dalam pembelajaran kelas VIIIH bersama guru IPA, Zetmi Heriyanti, M.Pd., melalui kegiatan eksplorasi sistem ekskresi pada manusia yang bertempat di laboratorium IPA Selasa (6/10/2026).
Pada pembelajaran tersebut, siswa mempelajari sekaligus mengidentifikasi struktur dan bagian-bagian organ ekskresi manusia yang meliputi ginjal, hati, paru-paru, dan kulit. Siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi diarahkan untuk mengamati, mengidentifikasi, mendiskusikan, dan memahami keterkaitan struktur dengan fungsi setiap organ.
Guru IPA MTsN 1 Kota Bengkulu, Zetmi Heriyanti, M.Pd., menegaskan bahwa pembelajaran IPA perlu memberikan pengalaman belajar yang mendorong siswa menemukan dan memahami konsep secara mandiri.
“Pembelajaran sistem ekskresi kami arahkan agar siswa tidak berhenti pada kemampuan menyebutkan organ dan fungsinya. Mereka perlu memahami struktur, fungsi, serta keterkaitan antarsistem dalam tubuh manusia. Melalui kegiatan pengamatan dan diskusi, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan membangun pemahaman berdasarkan proses belajar yang mereka alami,” ujar Zetmi.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap sistem ekskresi juga penting untuk membangun kesadaran siswa mengenai pola hidup sehat.
“Ketika siswa memahami bagaimana ginjal, hati, paru-paru, dan kulit bekerja, mereka akan lebih mudah memahami mengapa kesehatan organ tubuh harus dijaga. Jadi, pembelajaran ini tidak hanya menargetkan capaian akademik, tetapi juga membangun kesadaran dan tanggung jawab siswa terhadap kesehatan diri,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala MTsN 1 Kota Bengkulu, Dr. Diniah, M.Pd.Si., menegaskan bahwa pembelajaran berbasis aktivitas merupakan bagian dari komitmen madrasah dalam meningkatkan kualitas proses pendidikan.
“Madrasah harus memastikan bahwa pembelajaran memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi memfasilitasi siswa agar mampu mengamati, menganalisis, bertanya, berdiskusi, dan menarik kesimpulan. Inilah kompetensi yang perlu kita kuatkan untuk membentuk peserta didik yang kritis, mandiri, dan adaptif,” tegas Diniah.
Menurutnya, pembelajaran IPA memiliki ruang yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan dengan kehidupan nyata.
“Kita ingin siswa memahami bahwa ilmu yang mereka pelajari di kelas memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan. Ketika mereka mempelajari sistem ekskresi, mereka sekaligus belajar memahami tubuh, menjaga kesehatan, dan bertanggung jawab terhadap dirinya. Pembelajaran seperti ini yang harus terus kita dorong agar pendidikan di madrasah benar-benar berdampak,” tambahnya.
Selama kegiatan berlangsung, siswa kelas VIIIH mengikuti pembelajaran dengan antusias. Mereka mengidentifikasi bagian-bagian organ ekskresi serta mendalami fungsi masing-masing organ melalui arahan dan pendampingan guru.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya MTsN 1 Kota Bengkulu dalam menghadirkan pembelajaran IPA yang tidak sekadar berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan observasi, komunikasi, dan kesadaran hidup sehat.
Melalui pembelajaran yang aktif dan kontekstual, MTsN 1 Kota Bengkulu terus memperkuat komitmennya menghadirkan proses pendidikan yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata, sehingga ilmu yang diperoleh siswa dapat memberikan manfaat dan berdampak dalam kehidupan sehari-hari.
(CH/Humas)






