Melda Nuari Handini,M.Pd
Guru IPA MTsN 1 Kota Bengkulu
Belajar IPA Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas
Mendengar kata “klasifikasi makhluk hidup”, sebagian murid mungkin langsung membayangkan istilah-istilah ilmiah yang harus dihafalkan. Padahal materi ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tumbuhan yang tumbuh di halaman madrasah, serangga yang berterbangan, hingga berbagai jenis tanaman yang ada disekitar kita dapat menjadi objek belajar yang menarik.
Pembelajaran IPA di MTsN 1 Kota Bengkulu dapat dikembangkan dengan memanfaatkan lingkungan madrasah sebagai sumber belajar. Melalui pendekatan outdoor learning, murid tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi dapat melihat, mengamati, membandingkan, dan mengelompokkan makhluk hidup secara langsung. Lingkungan madrasah memiliki banyak objek yang dapat digunakan untuk mempelajari klasifikasi makhluk hidup. Murid dapat diajak mengamati berbagai tumbuhan yang terdapat di taman asrama, kebun OSIM, Green House OSIM-MPK maupun taman Perpustakaan Babul Ilmi.

Halaman Madrasah Sebagai Laboratorium Alam
Dalam kegiatan pembelajaran outdoor murid dapat mencatat nama atau ciri objek yang ditemukan seperti bentuk daun, jenis batang, jumlah kelopak bunga, jenis akar sehingga murid dapat mengelompokkan tumbuhan tersebut menjadi kelas dikotil atau monokotil. Murid kemudian berdiskusi dengan rekan kelompok untuk menentukan persamaan dan perbedaan antarorganisme. Halaman madrasah berubah menjadi laboratorium alam sederhana. Tidak perlu peralatan yang rumit. Rasa ingin tahu, lembar pengamatan, alat tulis, dan lingkungan sekitar sudah dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar.

Kegiatan outdoor learning dapat dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok diberikan tugas untuk menemukan beberapa makhluk hidup di lingkungan madrasah, baik hewan maupun tumbuhan disesuaikan dengan sub materi. Murid kemudian melakukan beberapa kegiatan, seperti:
- mengamati objek secara langsung;
- mencatat ciri-ciri yang ditemukan;
- mengambil gambar sebagai dokumentasi;
- membandingkan persamaan dan perbedaan;
- mengelompokkan organisme berdasarkan ciri-cirinya; dan
- mempresentasikan hasil pengamatan kepada teman-teman.
Pada kegiatan pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing murid menemukan konsep melalui pengalaman mereka sendiri.

Salah satu kelebihan pembelajaran outdoor adalah murid dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Ketika murid melihat langsung berbagai tumbuhan dari kelas dikotil maupun monokotil, istilah klasifikasi tidak lagi sekadar sesuatu yang harus dihafalkan. Misalnya, ketika menemukan beberapa tumbuhan dengan ciri yang berbeda, murid dapat membandingkannya dan mulai memahami mengapa makhluk hidup perlu dikelompokkan berdasarkan karakteristik tertentu.
Menumbuhkan Rasa Peduli terhadap Lingkungan Sekitar Murid
Pembelajaran yang langsung terjun ke alam juga dapat mendorong murid untuk lebih aktif bertanya dan berdiskusi. Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya terdapat di dalam buku, tetapi juga dapat ditemukan di lingkungan sekitar. Selain memahami konsep klasifikasi, kegiatan outdoor learning memberikan pengalaman lain yang tidak kalah penting, yaitu membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Saat mengamati berbagai makhluk hidup di sekitar madrasah, murid dapat menyadari bahwa lingkungan madrasah memiliki keanekaragaman hayati yang menarik. Mereka belajar untuk mengamati tanpa merusak, menjaga kebersihan, dan menghargai keberadaan makhluk hidup di sekitarnya. Pembelajaran IPA tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap peduli terhadap lingkungan.
Outdoor learning tidak berarti pembelajaran harus selalu dilakukan jauh dari madrasah. Lingkungan madrasah sendiri dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang murah, mudah dijangkau, dan dekat dengan kehidupan murid. Menurut beberapa penelitian dari dosen di Universitas Bengkulu menyatakan bahwa strategi pembelajaran berbasis lingkungan dikenal dengan BLAS (Belajar berbasis Lingkungan Alam Sekitar). Strategi ini mengintegrasikan metode pembelajaran di dalam kelas (indoor) dan di luar kelas (outdoor). Proses penerapannya dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu tahap pengenalan (introduksi), tahap eksplorasi, dan tahap interpretasi. Strategi ini dirancang agar dapat diimplementasikan secara praktis dalam pembelajaran IPA di sekolah (Zukmadini dan Karyadi,2018).
Adapun penelitian lain dari Sutera et al. (2023) menemukan bahwa penerapan metode Outdoor Learning dalam pembelajaran IPA materi interaksi makhluk hidup dan lingkungan dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik kelas VII di SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang belajar dengan metode ini lebih aktif dan antusias, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, yang merupakan indikator penting dalam pembelajaran konstruktivis.
Guru Kreatif, Pembelajaran Lebih Menarik
Guru dapat merancang kegiatan sederhana sesuai dengan tujuan pembelajaran. Materi klasifikasi makhluk hidup, misalnya, dapat dikemas dalam bentuk kegiatan “jelajah lingkungan madrasah” permainan mencari dan mengelompokkan organisme, atau proyek dokumentasi keanekaragaman makhluk hidup.
Kreativitas guru dalam memanfaatkan lingkungan dapat membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan menyenangkan. Pembelajaran klasifikasi makhluk hidup melalui outdoor learning memberikan pesan sederhana bahwa belajar IPA tidak selalu membutuhkan ruang laboratorium yang lengkap. Lingkungan di sekitar madrasah pun dapat menjadi laboratorium alam yang kaya.
Dari halaman madrasah, murid dapat belajar mengamati. Dari pengamatan, mereka belajar menemukan persamaan dan perbedaan. Dari sana, mereka memahami konsep klasifikasi makhluk hidup. Pada akhirnya, belajar IPA bukan hanya tentang mengetahui jawaban, tetapi juga tentang menemukan ilmu dari apa yang ada di sekitar kita. Halaman madrasah yang selama ini mungkin hanya dilewati setiap hari ternyata dapat menjadi ruang belajar yang penuh dengan pengetahuan. Karena terkadang, laboratorium terbaik bukanlah ruangan dengan banyak alat, melainkan lingkungan yang mampu membuat murid ingin mengamati, bertanya, dan menemukan.
Daftar Pustaka
Astuti, Rini. (2015). Pengembangan Pembelajaran Di Luar Kelas Melalui Project Based Learning Dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Pada Materi Penanganan Limbah. S2 Thesis, Universitas Pendidikan Indonesia. Diakses 10 April 2025
Handini,et al (2025). Laporan Hasil Outdoor Learning. Pascasarjana Pendidikan IPA. Universitas Bengkulu. Akses 08 Oktober 2026
Karyadi, B., Ruyani, A. & Susanta, A. (2016). Pengembangan model pembelajaran di luar kelas (outdoor) berbasis lingkungan alam Bagi siswa SD-SMA. Laporan Akhir Hibah Penelitian Tim Pascasarjana-HPTP
Sutera, R, D., Hakim, M,A., & Putra,E,P., (2023). Penggunaan Metode Outdoor Learning Pada Pembelajaran Ipa Materi Interaksi Makhluk Hidup Dan Lingkungan Dan Pengaruhnya Terhadap Keaktifan Belajar Siswa Kelas VII Di SMPN. https:/ejournal insancendekia.com. https:/www.researchgate.net/publication/377020016
Zukmadini,A,Y., Karyadi, B., Trisnawati,W. (2018). Strategi Pembelajaran Biologi Berbasis Lingkungan Melalui Kombinasi Pembelajaran Indoor Dan Outdoor Sebagai Upaya Meningkatkan Keterampilan Proses Siswa SMA. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (ISBN: 978-602-61265-2-8)






