0232 123456

mtsn1kotabengkulu@yahoo.co.id

Today :

Dari Lebong Untuk Cahaya Bengkulu (Potensi Panas Bumi Hulu Lais)

Citra Handayani

Okt. 29, 2025

Oleh: Widi Heri Saputri

Asal sekolah: MTs Negeri 01 Kota Bengkulu

Energi panas bumi atau geothermal merupakan salah satu sumber energi baru terbarukan yang sangat berpotensi untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik nasional sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Di Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu, energi panas bumi menjadi salah satu fokus pengembangan energi hijau yang memiliki peluang besar, terutama di wilayah Kabupaten Lebong. Kabupaten Lebong memiliki potensi panas bumi yang signifikan, tersebar di beberapa lokasi utama seperti Hulu Lais, Bukit Daun, dan Tambang Sawah. Potensi ini diperkirakan dapat menghasilkan kapasitas listrik hingga 300 Mega Watt (MW), angka yang sangat besar untuk wilayah tersebut dan sekitarnya (Alat Uji, 2025).

Sebagai penampung panas bumi yang besar ini PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bersama PT PLN (Perusahaan Listrik Negara) aktif mengembangkan dan mengelola potensi panas bumi yang ada. Salah satu proyek utama adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Hulu Lais yang berkapasitas dua kali 55 MW (Primadya,2025)

Proyek panas bumi ini menjadi salah satu bagian dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang bertujuan memperkuat ketahanan dan kemandirian pasokan listrik nasional (Primadya, 2025). Keberadaan 24 sumur geothermal yang telah selesai dibor di Kabupaten Lebong siap untuk memasok listrik ramah lingkungan ke PT PLN dengan kapasitas yang cukup besar, yakni sebesar 2 x 55 MW. Dengan kapasitas ini, listrik yang dihasilkan dapat menerangi sekitar 244 ribu rumah di Indonesia, menunjukkan betapa besarnya kontribusi energi panas bumi ini bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat (Susanti dan Firmansyah, 2025).

Energi panas bumi memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya pilihan utama energi masa depan. Selain ramah lingkungan dan berkelanjutan, energi panas bumi juga dapat menyediakan pasokan listrik yang stabil tanpa emisi karbon seperti yang dihasilkan bahan bakar fosil. Hal ini penting untuk mendukung target Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperkuat target pemanfaatan energi baru terbarukan (Indrawan, 2025). Bagi Bengkulu, pemanfaatan energi panas bumi akan membawa dampak ekonomi yang luas.

Proyek PLTP Hulu Lais dan Kepahiang diperkirakan memberikan efek pengganda (multiplier effect) mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal, keterlibatan usaha lokal, hingga peningkatan infrastruktur jalan dan fasilitas umum. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuka lapangan kerja baru, memacu pertumbuhan ekonomi daerah.​ Selain itu, energi panas bumi menjadi motor penggerak pengembangan ekonomi hijau yang berkelanjutan, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan lingkungan hidup. Ini sejalan dengan visi Indonesia dalam membangun ekonomi hijau dan menuju target net-zero emission di masa depan.

Potensi panas bumi di Lebong sangat besar, implementasi proyek energi ini memiliki hambatan. Keterlambatan pembangunan infrastruktur pembangkit dan jaringan distribusi listrik menjadi hambatan utama yang harus segera diatasi oleh pemerintah dan mitra terkait. Langkah kolaborasi antara PT Pertamina, PLN, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat sangat penting untuk mempercepat realisasi proyek ini. Pengelolaan potensi panas bumi ini harus efektif dan berinovasi serta menerapkan prinsip ramah lingkungan harus menjadi perhatian utama agar pengembangan panas bumi tidak menimbulkan dampak negatif seperti kerusakan ekosistem dan pencemaran sumber air bagi masyarakat, dikarenakan air adalah hal penting bagi masyarakat sekitar untuk digunakan sehari-hari maupun untuk sawah dan kebun disekitarnya.

Besar harapannya pemanfaatan panas bumi di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu bisa menjadi contoh keberhasilan transformasi energi di Indonesia yang memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan energi panas bumi, Bengkulu dan Indonesia dapat menerangi desa-desa yang belum terjangkau listrik dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Potensi energi panas bumi di Kabupaten Lebong, Bengkulu, merupakan sumber daya alam yang sangat strategis untuk mendukung kebutuhan listrik berkelanjutan di Indonesia. Kapasitas besar yang dimiliki bersama dengan proyek strategis seperti Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Hulu Lais menawarkan peluang besar untuk menerangi negeri dengan listrik yang bersih dan hijau.

Pengembangan energi panas bumi ini tidak hanya menghasilkan listrik ramah lingkungan yang menjawab kebutuhan energi nasional, tetapi juga memiliki banyak manfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia khususnya di daerah Provinsi Bengkulu. Sebagai sumber energi terbarukan, panas bumi dapat menjadi bahan ajar bagi guru yang menarik dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Kota Bengkulu. Melalui pembelajaran kontekstual yakni pembelajaran secara langsung peserta didik dapat diajak mengunjungi lokasi panas bumi dengan prosedural yang aman dan dengan ini diharapkan peserta didik dapat memahami konsep energi, proses terbentuknya panas bumi, serta pentingnya menjaga sumber daya alam yang berkelanjutan, peserta didik dapat belajar untuk lebih peduli terhadap kelestarian bumi dan memahami pentingnya beralih ke energi ramah lingkungan.

 Tidak hanya sebagai bahan ajar, energi panas bumi juga bisa dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung kegiatan pendidikan. Sekolah yang berada di daerah berpotensi panas bumi dapat menggunakan energi ini untuk memenuhi kebutuhan listrik, pemanas ruangan, atau fasilitas laboratorium. Dengan demikian, lembaga pendidikan dapat menghemat biaya operasional sekaligus memberi contoh nyata penerapan energi berkelanjutan. Selain itu, pemanfaatan energi panas bumi mendorong terjalinnya kerja sama antara dunia pendidikan dan industri, melalui proyek energi hijau. Semua ini menjadikan energi panas bumi tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga berperan penting dalam membangun generasi cerdas, inovatif, dan peduli terhadap keberlanjutan bumi.

Cara bijak dalam memanfaatkannya dimulai dengan menggantikan penggunaan bahan bakar fosil, seperti batu bara dan minyak bumi, yang selama ini menjadi penyebab utama polusi udara dan pemanasan global. Pemanfaatan energi panas bumi juga harus dilakukan secara berkelanjutan, yaitu dengan mengatur pengambilan energi agar tidak merusak struktur tanah atau menguras cadangan panas bumi secara berlebihan. Selain itu, pengelolaan air yang digunakan dalam proses pembangkitan listrik geotermal perlu dilakukan secara hati-hati dengan sistem daur ulang, agar tidak mencemari lingkungan atau mengurangi sumber air bersih di sekitar area.

Menjaga keasrian lingkungan di sekitar lokasi eksploitasi panas bumi juga sangat penting. Kegiatan seperti reboisasi, pelestarian hutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Penerapan teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan energi geotermal juga Dengan energi panas bumi di Lebong, diharapkan Indonesia semakin dekat pada masa depan yang mandiri energi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, menerangi setiap sudut negeri dengan energi hijau yang berlimpah.

Dengan adanya energi panas bumi di Lebong, diharapkan Indonesia khusunya provinsi Bengkulu semakin dekat pada masa depan yang mandiri energi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan serta mampu menerangi setiap sudut negeri dengan energi hijau yang berlimpah.

Artikel Terkait